Entri Populer

Minggu, 30 Oktober 2011

logika ku sedang macet

aku kehilangan kata kata

Yang sedang lantang bicara di dalam kepala
Tiba tiba lenyap ;
Entah kemana menghilang
Seperti bayang yang melayang
Aku terdiam sejenak , lalu berjalan menuju ke pinggir langit
melintasi rimba imaji, menelusuri lika liku jalan nurani
mencari cahaya dan tanda tanda dimana ia tertumbu
telah kucari ke semua arah
Kucari di dalam saku
Ku geledah dalam laci biru
Ku obrak abrik isi lemari baju
Namun tak jua kutemukan
Hanya huruf huruf mati dan huruf hidup
yang berserakan dilantai ;
berserakan, bergelimpangan
Bagai tumpahan air kopi yang jatuh ke lantai keramik
Ribuan kata dari segala penjuru arah , tumpah
Kata tentang luka ibu pertiwi
tentang derita anak anak bangsa
tentang hak azazi yang sering dikebiri
tentang kebenaran yang senantiasa disunati
tentang keadilan yang sengaja di abaikan
tentang kezaliman yang senantiasa dituhankan
tentang cinta kepada sesama yang mungkin tak lagi hangat dan
lezat untuk dibicarakan
tentang demokrasi yang mirip bau terasi , enak untuk disantap sebagai campuran sambal cabe sarapan pagi atau makan di siang hari
selalu dibicarakan oleh semua orang di setiap ada kesempatan , entah itu di gedung gedung pencakar langit atau di kedai kedai kopi
oleh semua kalangan baik itu para penyair , seniman dan pejabat tinggi

aku masih kehilangan kata kata
tentang luka yang semakin menganga di rongga dada
mengenai jerit tangis rakyat jelata
yang lenyap bagai debu diatas batu
berhamburan dihembus angin kencang

semula akan ku rangkai menjadi sepenggal puisi
namun tiba tiba bayangmu datang menggemuruh
seperti angin puting beliung datang mengacau
menghalau semua kata yang mengalir seperti air itu
lalu aku duduk sejenak mencoba menghalau pukau,
bayangmu
kenapa engkau datang ketika aku sedang membuang bayang ?
Sedangkan engkau telah lama pergi menghilang,
Disaat aku menjauh dari mimpimu
dan akupun tak ingin terusik oleh kenangan
biarkan ia tergenang dalam tempias malam.. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar